Masalah gigi berlubang merupakan masalah kesehatan segala usia. Orang dewasa pun akan senewen mengalami gigi yang senut-senut, apalagi balita yang belum bisa mengutarakan rasa sakitnya. Para ahli kesehatan anak menyebutkan, kerusakan gigi pada balita jarang dialami oleh bayi-bayi yang mendapatkan ASI.
Para ahli sejak lama telah mengetahui kaitan antara kerusakan gigi balita dengan kebiasaan orangtua membiarkan bayinya menghisap botol susu hingga tertidur. Karenanya para dokter anak yang tergabung dalam The American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar para ibu menyusui bayinya.
Jika terpaksa memberikan susu dari botol, pada usia satu tahun bayi disarankan untuk dilatih minum susu dari gelas, karena terlalu lama menggunakan botol susu akan mengganggu pertumbuhan gigi dan rahangnya.
Dalam survei berskala nasional yang dilakukan oleh National Health and Nutrition Examination Suvey, AS, selama periode tahun 1999-2000 terhadap 1.576 balita, diketahui 27,5 persennya mengalami gigi tanggal akibat lubang gigi. Selain susu botol, faktor risiko lain yang meningkatkan risiko kerusakan gigi pada balita adalah kebiasaan ibu merokok saat hamil, kekurangan kalsium di masa kehamilan, serta lahir dari ibu yang berusia muda (19 tahun).
Untuk menghindari kontak yang terlalu lama antara susu dan gigi, jangan membiarkan bayi menyusu sambil tidur. Selain itu menghisap susu botol sambil tidur juga membuat risiko tersedak makin besar. Yang bahaya adalah jika susu sampai masuk ke dalam telinga dari saluran belakang tenggorokan. Akibatnya bisa terjaid radang telinga.
Hindari pula memberikan susu botol ketika bayi menangis keras atau sedang sesak napas. Susu bisa masuk ke dalam paru-paru dan terjadilah radang paru. Saat menginjak balita, mulailah biasakan si kecil untuk membersihkan giginya setiap hari dan memeriksakan diri ke dokter secara teratur. Tentu jika gigi si kecil sehat dan rapi akan lebih enak dipandang. (An/reuters/nakita)
sumber: Kompas Cyber Media, 2 Oktober 2007

