logo

Nurma Clothing

Nurma Clothing - specialized on discreet breastfeeding.

Baju khusus untuk ibu menyusui. Siapa bilang Ibu menyusui gak bisa gaya? Nurma Clothing jawabannya!!

Arsip

Kategori Artikel

Important Link

Manfaat ASI

Info Seputar Menyusui

Cara Menyusui

Kalendar

February 2007
M T W T F S S
« Nov   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Update me!!!

Artikel Terbaru

ASI-lebrity

Seberapa sering bayi saya harus menyusu?

February 27, 2007

Setiap bayi berbeda! Karena perbedaan ini, bayi sehat dapat menyusu setiap setiap ataupun setiap empat jam sekali dan tetap tumbuh dengan baik. Pola menyusu akan berbeda pada tiap bayi dan biasa berubah sering dengan bertambahnya usia bayi.

Kebanyakan ibu terkejut karena ASI sangat mudah dan cepat dicerna oleh bayi mereka (biasanya dalam jangka 90 menit dari menyusu terakhir). Daripada memperhatikan jam, lebih baik memperhatikan tanda-tanda yang ditunjukkan bayi Anda saat lapar, seperti reflek menghisap, menghisap tangan atau jari, atau menangis.

Ibu harus dapat mengikuti petunjuk bayi mereka dalam menentukan seberapa sering mereka harus menyusui bayinya. Bayi yang menyusu memiliki kontrol diri; mereka minum ASI dalam jumlah yang mereka butuhkan, dan dari tiap payudara. Bayi sehat menyusu 8 hingga 12 kali dalam rentang 24 jam. Sama dengan menyusu tiap dua hingga tiga jam.

Jadi, jika bayi Anda tidak menyusu setidaknya delapan hingga 12 kali dalam rentang 24 jam pada minggu-minggu pertama, Anda harus membangunkan bayi Anda untuk menyusu lebih sering. Membangukan bayi untuk menyusu, penting agar bayi dapat tumbuh dengan baik.

Beberapa ibu menyatakan bahwa bayi mereka ingin menyusu lebih sering dari tiap 2 jam. “Pada bulan-bulan pertama, banyak bayi yang melakukan yang disebut ‘cluster feeding’; menyusu dalam jarak yang berdekatan pada waktu tertentu, dan menyusu dalam jangka yang lebih lama di waktu lain. Variasi seperti ini sangat normal.

Bayi yang secara teratur menyusu (dengan posisi/latch-on yang tepat) akan mendapatkan ASI yang cukup. Payudara ibu akan menyediakan asi sesuai dengan permintaan bayi mereka melalui menyusu secara teratur). Penelitian menunjukkan bahwa membatasi waktu menyusu pada tiap payudara dan menambah jarak tiap menyusu tidak hanya dapat mengurangi produksi ASI, tetapi juga jumlah lemak yang terkandung dalam ASI.

Jarak antar menyusu akan menjadi lebih panjang seiring dengan tumbuhnya bayi dan berkembangnya ukuran lambung mereka. Di usia yang lebih besar, mereka juga sudah memiliki pola menyusu yang lebih baik. Growth spurts (lonjakan pertumbuhan) biasanya akan mengganggu pola ini, namun hanya sementara.

sumber: La Leche League Int’l

Bahayanya Pemberian Bantuan Susu

February 18, 2007

JAKARTA, KOMPAS - Departemen Kesehatan dan Unicef mengingatkan bahayanya menyumbang susu formula dan susu bubuk kepada korban banjir. Meskipun disertai etiket baik, disarankan susu formula dan susu bubuk sebaiknya tidak disumbangkan, dan hanya diberikan apabila pemakaiannya dapat ditargetkan dan dimonitor dengan hati-hati.

Demikian dikemukakan Kepala Komunikasi Publik Departemen Kesehatan (Depkes) dr Lily Sulistyowati dan Unicef di Jakarta, Senin (12/1). Dalam keadaan normal saja, anak yang diberi susu formula kemungkinan terserang penyakit, dan angka kematian karena infeksi lebih tinggi daripada yang diberi air susu ibu (ASI).

Risiko terkena penyakit dan mati karena infeksi lebih besar dalam kondisi air bersih dan sanitasi sangat terbatas, sebagaimana terjadi akhir-akhir ini di Jakarta akibat banjir. Indonesia sudah mengalami konsekuensi negatif dari susu formula dan bentuk lain dari susu yang dibagikan, saat bencana lain terjadi di Yogyakarta dan Aceh.

Survei bersama yang diadakan Depkes dan Unicef menyatakan, pada sekitar 80 persen bayi dan anak di bawah usia dua tahun penerima bantuan susu formula atau susu bubuk setelah gempa di Yogyakarta, ditemukan kenaikan 600 persen anak yang menderita diare. Diare terjadi dua kali lebih banyak pada mereka yang menerima bantuan susu formula daripada yang tidak.

Tersedianya banyak susu formula atau susu bubuk menyebabkan para ibu beralih dari menyusui ke pemberian makanan artifisial. Sebulan setelah gempa di Yogyakarta, misalnya, proporsi pemberian makanan artifisial pada bayi meningkat dua kali lipat.

Depkes dan Unicef menyatakan, menyusui memberikan gizi yang optimal pada anak dan memberi perlindungan antibodi yang tidak dapat digantikan oleh susu formula. Pada kenyataannya, menyusui telah terbukti sebagai pendekatan kesehatan masyarakat yang paling efektif untuk mencegah kematian anak. Penelitian data dari 42 negara menunjukkan bahwa menyusui secara eksklusif saja dapat mencegah 13 persen kematian bayi dan anak, angka tertinggi jika dibandingkan dengan keikutsertaan yang lain.

Unicef, WHO, dan Depkes merekomendasikan untuk menyusui sesegera mungkin dalam waktu empat jam setelah kelahiran, menyusui secara eksklusif selama enam bulan pertama dilanjut- kan dengan menyusui dan makanan tambahan yang cukup dari usia enam bulan sampai dua tahun.

Akibat banjir di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Bara, hingga Minggu (11/2) pukul 19.00 jumlah korban meninggal 68 orang, pengungsi 328.358 orang, pasien rawat inap 508 orang di 15 rumah sakit di Jakarta. Pasien rawat jalan 189.746 jiwa dan yang dirujuk tiga orang. Pasien ditangani di 227 pos kesehatan.

Sumber: Kompas
Penulis: Lok
Diambil: Kompas Cyber Media, 13 Februari 2007