logo

Nurma Clothing

Nurma Clothing - specialized on discreet breastfeeding.

Baju khusus untuk ibu menyusui. Siapa bilang Ibu menyusui gak bisa gaya? Nurma Clothing jawabannya!!

Arsip

Kategori Artikel

Important Link

Manfaat ASI

Info Seputar Menyusui

Cara Menyusui

Kalendar

April 2006
M T W T F S S
« Mar   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Update me!!!

Artikel Terbaru

ASI-lebrity

ASI Membuat IQ Tinggi Dan Mandiri

April 25, 2006

Air susu ibu alias ASI ibarat ari-ari di luar tubuh. Janin yang semula terlindungi ari-ari, setelah lahir “dilindungi” ASI. Masih banyak lagi, lo, manfaat lainnya.

Salah satu benda yang dikenal bayi pada jam-jam pertama kelahirannya adalah payudara ibunya. Soalnya, seperti dikatakan dr. Utami Roesli, SpA, MBA dari RS St. Carolus Jakarta, “Setengah jam setelah lahir, bayi harus diperkenalkan dengan payudara ibunya.”

Memang, isapan bayi di puting susu ibunya itu bukan untuk makan/nutrisi. Sebab, di hari-hari pertama kehidupannya, ia belum memerlukan cairan. “Perkenalan pertama pada puting susu ibunya bertujuan agar ia belajar minum sehingga nantinya ia terbiasa menyusu.”

Menurut Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu Sint. Carolus ini, menyusu tak bersifat instinktif tapi harus dipelajari. “Jadi, salah kalau kita menganggap karena hamil dan ada hormon-hormon tertentu, bayi bisa menyusu dengan baik dan lancar!” Nah, pelajaran menyusu yang dimaksud adalah bagaimana menentukan posisi puting susu ibu dan mulut bayi. “Ini lebih penting dibanding posisi ibu dan tubuh bayi saat menyusu.”

“TAMENG”

Disamping memberi pelajaran pada si kecil, ASI di hari-hari pertama kehidupan bayi juga penting diberikan. Bukan untuk bayi tumbuh, melainkan untuk “tameng” menggantikan badan sang ibu. Karena ASI di hari-hari pertama mengandung kolostrum. Bahan ini (terdapat pada ASI di hari 1 hingga 14) mempunyai kandungan vitamin dan perlindungan yang diperlukan untuk daya tahan tubuh.

Oleh karena itu ASI melindungi bayi dari gangguan usus dan pencernaan, serta memperkecil kemungkinan keluhan alergi. Tak perlu cemas jika ia buang air 10-15 kali dalam sehari di bulan pertama. “Itu bukan diare, penyakit atau ASInya tak cocok, melainkan di dalam kolustrum terdapat pencahar. Jadi, normal saja. Berat badannya pun tidak turun, tetap naik.”

Namun, pesan Utami, jika ibu mengganti ASI dengan apa pun, risiko infeksi akan lebih besar terjadi. Entah dari air untuk membuat susu formula, botol yang tak steril, dan lainnya.

Yang pasti, tegas Utami, “ASI tak pernah basi. Dia itu seperti darah yang jika tak dipakai, diserap tubuh kembali dan jika diserap bayi, akan diproduksi lagi,” tutur Utami.

CERDAS & MANDIRI

Pendek kata, memberi ASI amat banyak manfaatnya. Terutama bagi si bayi. Menurut penelitian, bayi jadi tumbuh optimal dan lebih sehat, tidak kegemukan atau terlalu kurus. “Bayi akan sehat karena dalam ASI ada antibodi yang tak terdapat dalam susu hewan,” jelas Utami. Itulah mengapa para ahli menganjurkan bayi harus diberikan ASI eksklusif (hanya ASI saja tanpa cairan lain) selama 6 bulan.

Yang tak kalah penting, pemberian ASI eksklusif juga berpengaruh pada tingkat kecerdasan bayi. Penelitian yang dilakukan pada 1993 mengungkapkan, di usia 7 tahun, anak memiliki IQ dengan poin 8,3 lebih tinggi. “Sebab, ASI ialah susu manusia dan buat otak manusia. Jadi, ada zat-zat khusus untuk pembentukan sel otak, yang tak bisa didapat pada susu sapi.”

ASI eksklusif juga meningkatkan ikatan kasih sayang antara ibu dan bayinya. Jika di dalam kandungan bayi merasa aman dan terlindungi di dalam rahim, kini ketenteraman itu diperolehnya lewat kontak kulit ke kulit dengan ibunya dan ia tetap bisa mendengar detak jantung ibunya kala ia tengah menyusu. Karena merasa aman, dilindungi, dan dicintai, anak akan tumbuh sehat, cerdas, dan mandiri.

Lewat pemberian ASI pula, ibu jadi tahu, bayinya tak tahan pada jenis makanan tertentu. Misalnya si ibu makan santan lalu bayinya mencret, ia jadi tahu dan berhenti mengkonsumsi santan. Ini terjadi karena bayi tak bisa mencerna ASI tersebut akibat ada bahan sensitif. Kalau ibunya tak makan santan lagi, ya, si bayi tak akan mencret kembali.”

Yang jelas, ibu menyusui tak perlu diet apa pun, sepanjang mengkonsumsi makanan bergizi seimbang. Berbagai bahan makanan berserabut semisal sayur, buah, dan kacang-kacangan amat dianjurkan. Sebab, selain baik untuk pencernaan, banyak mengandung cairan. Ibu menyusui perlu banyak cairan. Umumnya, 2 liter cairan per hari.”

MITOS

Sayangnya, banyak ibu tak menyusui bayinya dengan berbagai alasan. ASInya kering, kurang, payudaranya kecil, atau karena takut. “Padahal, semua itu cuma mitos!” Utami menjelaskan, ada anggapan bahwa bayi baru lahir harus diberi minum. Jadilah kalau ASI belum keluar, ia diberi cairan lain atau dot. “Kalau dikasih cairan lain, bagaimana dia bisa belajar menyusu? Mengisap ASInya jadi sedikit,” terang Utami.

Sedangkan jika diberi dot, maka ia akan “bingung dot”. Maksudnya, ia bisa mengisap di bagian depan atau sampai kepala dot. “Waktu harus menyusu ASI, daya isapnya, kan, beda. Ini membahayakan daya isap bayi. Di sisi lain, kalau daya isapnya berkurang, produksi ASInya pun akan kurang.”

Penting diketahui, produksi ASI tergantung kebutuhan bayi. Jika bayi kurang minum bukan berarti ibunya tak bisa memproduksi sebanyak yang diminta bayi. Kemungkinan besar karena bayinya yang tak bisa mengambil susu dengan baik, misalnya karena posisi menyusui yang salah. Tapi jika ASI diperah atau diminumkan dengan benar, maka ASI tak ada habis-habisnya karena dalam payudara ibu ada “pabrik” ASI (di daerah payudara yang berwarna putih), tempat produksi ASI, yang lalu dialirkan ke “gudang” ASI (di daerah payudara yang berwarna coklat).

Banyak-sedikitnya produksi ASI dirangsang oleh pengosongan “gudang”nya. Jika “gudang” susu kosong, otomatis “pabrik” akan membuatnya. Setelah produksinya banyak, lalu kita perah. Karena letak “gudang” itu pula, maka puting susu harus masuk ke dalam mulut bayi secara benar. Gusi-gusi bayi menekan daerah coklat di sekelilingnya, bukan cuma putingnya.

DUKUNGAN SUAMI

Besar-kecil payudara, kata Utami, tak menentukan banyak-sedikit ASI. Bisa jadi, besarnya itu karena lemak. “Tak perlu takut ASI tak keluar. Sebetulnya tak ada ibu yang tak keluar ASInya. Dari 100 ibu yang mengatakan seperti itu, 98 orang tak bermasalah. Hanya 2 yang bermasalah.”

Merujuk data penelitian lembaga konsumen, ibu-ibu tak mau memberikan ASI lebih karena takut ditinggalkan suami jika payudaranya berubah. Padahal, terang Utami, “Yang mengakibatkan payudara berubah bukanlah menyusui, tapi kehamilan. Jadi, jika payudara tak mau berubah, ya, jangan punya anak, jangan hamil.”

Itulah mengapa Utami menegaskan, “Dalam menyusui, suami harus ikut serta.” Maksudnya, jika ibu tak didukung, maka hampir tak mungkin ibu memberikan ASInya selama 6 bulan. “Nah, pemberian ASI eksklusif ini, 50 persennya ditentukan pula oleh suami.” Utami mengingatkan, proses menyusui atau memberi makan bayi bukanlah urusan ibu semata. “Suami pun harus membantu sehingga ibu tak gelisah dan pikirannya tenang. Jika gelisah, ASI bisa tak keluar.”

Apalagi, memberi ASI akan menyehatkan ibu. “Hubungan suami- istri lebih cepat kembali, karena uterus atau rahim cepat mengecil. Biasanya, buat pria, hal ini sangat penting,” tutur Utami. Tak perlu khawatir pula, menyusui bisa membuat badan gemuk. Penelitian menunjukkan, ibu yang memberi ASI eksklusif akan kembali ke berat badan normal lebih cepat. “Untuk jangka panjangnya, kemungkinan kena sejumlah jenis kanker juga jadi mengecil.”

ASI PERAH

Alasan bekerja sehingga tak bisa menyusui, juga bukan berarti tak bisa disiasati. Ibu dapat menyediakan ASI secukupnya dengan cara memompa payudara. “Dalam botol dengan penutup, bisa tahan 6-8 jam dan bila disimpan di lemari es bisa tahan 24-48 jam. Bahkan di dalam freezer bisa bertahan hingga 3 bulan meski ada kerugiannya, yakni zat antibodinya berkurang,” terang Utami.

Sebaiknya, masukkan ASI yang sudah diperah ke dalam botol berpenutup (sebelumnya botol harus direbus agar steril), lalu simpan di lemari es. Taruh label di botol untuk menandakan kapan ASI tersebut dipompa. Jika ingin diberikan pada bayi, hangatkan pada suhu tubuh 37 derajat Celcius. “Jangan dimasak dengan temperatur tinggi karena bisa menghilangkan vitamin, antibodi, dan bahan makanannya. Sebaiknya, lakukan dengan kucuran air ledeng yang hangat. Terakhir, suapkan ke mulut bayi dengan sendok.

Memang, aku Utami, ada kerugian memberi ASI dengan cara ini. “Ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi berkurang karena tak terjadi kontak langsung.”

Dedeh Kurniasih. Foto : Rohedi

sumber: Tabloid Nakita

ASI Perah, Solusi Buat Ibu Bekerja

April 12, 2006

Jadi, Bu, tak ada alasan untuk tak memberi ASI eksklusif pada si kecil. Sangat dianjurkan menyimpan ASI peras di lemari es karena tahan 2 hari dan kualitasnya pun tak berubah.

Sekitar 70 persen ibu di Indonesia bekerja. Ini berarti, banyak ibu yang tak bisa menyusui. Namun bukan berarti si kecil tak bisa mendapatkan ASI sama sekali. Toh, ASI bisa diperas. Dengan begitu, si kecil bisa tetap memperoleh ASI, bahkan ASI eksklusif yaitu hanya ASI tanpa makanan tambahan apa pun hingga si kecil berusia 6 bulan.

Hanya sayang, ASI peras tak bisa menggantikan tindakan menyusui itu sendiri. Seperti diketahui, tindakan menyusui punya banyak pengaruh untuk pertumbuhan mental dan fisik bayi. “Kalau saja semua bayi mendapatkan exclusive breast feeding minimal 4 bulan, saya yakin tak akan ada tawuran seperti sekarang ini. Karena anak-anak yang diberi ASI akan tumbuh menjadi anak yang kepribadiannya baik, lantaran mereka tumbuh dalam keadaan yang dinamakan secure attachment, suatu suasana yang aman, hingga mereka akan mempunyai kepribadian yang baik,” tutur dr. Utami Roesli, SpA, MBA.

Itu sebab, ASI peras hanya dianjurkan bagi bayi-bayi yang ibunya bekerja. “Bila ibu tak bekerja atau si bayi bisa dibawa ke tempat di mana ibunya berada, harus diusahakan breast feeding atau menyusui langsung, bukan ASI peras,” lanjut ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu RS Sint. Carolus, Jakarta ini. Jadi, Bu, hanya bila situasi dan kondisinya tak memungkinkan untuk menyusui langsung, barulah si kecil boleh diberi ASI peras/perah. “Ibaratnya, tak ada rotan, akar pun jadi.”

POMPA PISTON

Namun sebelum kita memberikan ASI peras pada si kecil, ada beberapa “aturan” yang penting diperhatikan. Pertama, sebelum si kecil berusia 4 bulan, sebaiknya ASI peras/perah yang diberikan jangan menggunakan dot dulu karena si kecil akan “bingung puting.” Maksudnya, ia akan susah untuk kembali menyusu dengan benar pada payudara ibu. Kedua, bila sudah berada satu atap lagi dengan si kecil, hendaknya ASI peras yang masih ada jangan diberikan lagi, tapi bayi harus menyusu langsung pada ibu. Bukankah tindakan menyusui adalah rotan? Jadi, bila ada rotan, mengapa harus menggunakan akar?

Adapun cara “menabung” ASI peras, yang paling baik dan efektif dengan menggunakan alat pompa ASI elektrik. Hanya saja, harganya relatif mahal. Lagi pula, masih ada cara lain yang lebih terjangkau bila punya dana lebih, yaitu piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja alat ini memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur.

Ironisnya, pompa-pompa yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk suntikan, lebih banyak berbentuk squeeze and bulb. Padahal, harga kedua pompa tersebut relatif sama. Namun bentuk squeeze and bulb tak pernah dianjurkan banyak ahli ASI. Soalnya, pompa seperti ini sulit dibersihkan bagian bulb-nya (bagian belakang yang bentuknya menyerupai bohlam) karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain itu, tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata.

MEMERAH DENGAN JARI

Tentu saja ada yang lebih murah ketimbang pompa-pompa ASI tadi, yaitu memerah dengan jari. Cara back to nature ini amat sederhana dan tak perlu biaya. Namun agar hasil perahannya memuaskan, kita perlu mengenal sedikit anatomi payudara.

Seperti dijelaskan Utami, payudara terdiri tiga komponen yang prinsipil, yaitu “pabrik” (di daerah berwarna putih), saluran, dan “gudang” (di daerah warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya seperti bejana berhubungan. “ASI diproduksi di ‘pabrik’nya yang berbentuk seperti kumpulan buah anggur. Setiap ‘pabrik’ ASI dilalui otot-otot. Bila otot-otot ini mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju ‘gudang’. Nah, agar pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di ‘gudang’ harus habis lebih dulu. Bila ‘gudang’ kosong, barulah ‘pabrik’ akan mengisinya kembali, begitu seterusnya,” papar Utami.

Jadi, pada prinsipnya kita harus bisa mengeluarkan ASI yang ada di “gudang”. Caranya, tempatkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Posisi ibu jari terletak berlawanan dengan jari telunjuk. Tekan tangan ke arah dada, lalu dengan lembut tekan ibu jari dan telunjuk bersamaan. Pertahankan agar jari tetap di tepi areola, jangan sampai menggeser ke puting. Ulangi secara teratur untuk memulai aliran susu. Putar perlahan jari di sekeliling payudara agar seluruh saluran susu dapat tertekan. Ulangi pada sisi payudara lain, dan jika diperlukan, pijat payudara di antara waktu-waktu pemerasan. Ulangi pada payudara pertama, kemudian lakukan lagi pada payudara kedua. Letakan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperas.

CARA MENYIMPAN

Sebenarnya, tutur Utami, memerah ASI hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, kita harus menekan agak ke belakang. “Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah susunya seperti melakukan massage payudara. Ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada massage payudara adalah ‘pabrik’ ASI bukan ‘gudang’nya. Kan, kita tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari ‘pabrik’ tapi harus melalui ‘gudang’ dulu.” Jadi, bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi pekerjaan biasa. Waktu yang dibutuhkan pun tak sampai setengah jam, tapi susu yang terkumpul bisa mencapi 500 cc, lo.

Setelah diperah, ASI harus di simpan dengan baik agar dapat bertahan lama. Menurut Utami, di udara terbuka, ASI perah bisa tahan 6-8 jam, tapi bila ditaruh di kantong plastik lalu dimasukan termos dan diberi es batu, akan tahan kira-kira 1X 24 jam. Lain lagi bila ASI perah dimasukan di lemari es, bisa tahan 2X24 jam. Sedangkan bila dimasukkan dalam freezer, bisa tahan 3 bulan.

Namun dari semua cara penyimpanan tadi, lebih dianjurkan untuk memasukkan ASI ke dalam termos dan lemari es. “Sudah dibuktikan, lo, ASI perah yang dimasukkan ke termos dan lemari es tak mengalami perubahan komposisi gizi sama sekali. Hanya mungkin warna dan bentuknya saja yang berubah.” Tak demikian halnya jika dimasukkan dalam freezer, “ASI akan mengalami perubahan dalam hal jumlah imunoglobulin, yaitu protein molekul yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh, karena ada yang mati akibat kedinginan.”

SUAPI PAKAI SENDOK

Selanjutnya, ketika ingin memberikan ASI perah pada si kecil, kita harus menghangatkannya dulu. Namun jangan dipanaskan di atas api, lo, karena mengakibatkan beberapa enzim penyerapan mati kepanasan. Beberapa buku dari luar menganjurkan untuk menyiram ASI dengan running tap water, tapi di Indonesia, kan, jarang ada keran yang berisi air hangat. Jadi cukup dengan mangkuk yang diisi air hangat (suhu airnya sama dengan suhu air yang biasa kita gunakan untuk mandi atau suhu tubuh). Adapun lama penghangatan tergantung suhu ASI, tapi prinsipnya buatlah suhu ASI seperti suhu tubuh karena akan menyerupai ASI yang dikeluarkan langsung. Nah, setelah selesai bisa langsung diberikan pada bayi.

Namun cara pemberiannya jangan pakai botol susu dan dot, melainkan disuapi pakai sendok. Kalau si kecil langsung menyusu dari botol, lama-lama ia jadi “bingung puting”. Jadi, ia hanya menyusu di ujung puting seperti ketika menyusu dot. Padahal, cara menyusu yang benar adalah seluruh areola ibu masuk ke mulut bayi. Jadi, kalau si kecil sudah “bingung puting”, tak heran bila ia gagal mengeluarkan ASI di “gudang”nya. Salah satu tanda posisi si kecil salah menyusu ialah payudara ibu lecet. Akhirnya, si kecil jadi ogah menyusu langsung dari payudara lantaran ia merasa betapa sulitnya mengeluarkan ASI. Sementara kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya, susu langsung keluar.

Tak usah cemas si kecil akan kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan. Memang, pada awalnya si kecil akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi, kok. “Maksimal pada hari keempat, bayi akan sudah terbiasa. Seberapa pun ASI yang ada, akan diminum. Kalau ditinggali 500 cc, akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan 200c. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tak akan kekurangan ASI. Itu sudah dibuktikan, lo,” tutur Utami.

Nah, Bu, tak ada lagi yang perlu dicemaskan, bukan? Ingat, lo, meski bunda bekerja, si kecil tetap bisa mendapatkan ASI ekslusif!

Faras Handayani .
sumber: tabloid Nakita