logo

Nurma Clothing

Nurma Clothing - specialized on discreet breastfeeding.

Baju khusus untuk ibu menyusui. Siapa bilang Ibu menyusui gak bisa gaya? Nurma Clothing jawabannya!!

Arsip

Kategori Artikel

Important Link

Manfaat ASI

Info Seputar Menyusui

Cara Menyusui

Kalendar

March 2006
M T W T F S S
« Dec   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Update me!!!

Artikel Terbaru

ASI-lebrity

Setelah Cuti Melahirkan Berlalu

March 25, 2006

Bayi bisa sedih, takut dan bingung saat ibunya tiba-tiba “menghilang” untuk bekerja.

Tiga bulan rasanya tidak cukup untuk merawat si kecil yang baru lahir. Tapi kalau cuti melahirkan sudah habis dan ibu telah memantapkan pilihan untuk kembali bekerja, buatlah suatu tindakan transisi yang bisa memudahkan seluruh anggota keluarga. Terutama bagi si kecil yang mesti ber-adaptasi dengan kondisi baru. Jangan sampai si bayi merasa kaget dan merasa terbuang saat ditinggal ibu untuk bekerja. Ingat bayi juga seperti kita yang memiliki perasaan. Dia bisa sedih, takut dan bingung saat orang yang paling dekat dengannya (baca ibu) tiba-tiba “menghilang” seharian. Lantaran itu kala ibunya harus kembali bekerja, beberapa bayi akan rewel, enggan menyusu bahkan ada yang sampai berat badanya menyusut.

Ibu pun demikian. Di kantor ia bisa gelisah karena pikiran dan hatinya berada di rumah. Alhasil, jangankan bersemangat dalam bekerja, ibu justru merasa cepat lelah dan ingin selalu buru-buru pulang. Evie Sukmaningrum, Psi., M.Si, dari Fakultas Psikologi Atma Jaya, Jakarta, mengakui adanya kondisi ini pada ibu-ibu yang baru saja kembali dari cuti melahirkan. “Kalau sudah kepengin pulang jangan ditahan-tahan, pulang saja. Kalaupun ditahan percuma, malah tidak akan produktif,” sarannya.

Meski begitu ini bukan masalah tanpa solusi, lo. Intinya cuma satu; persiapan. Jadi sebelum kembali bekerja, ibu harus melakukan berbagai persiapan untuk si kecil juga

untuk diri sendiri. Idealnya, persiapan dilakukan sekurang-kurangnya satu minggu sebelum masuk kerja. Berikut yang disarankan Evi:

BERBAGAI PERSIAPAN UNTUK BAYI

1. Biasakan bayi mendapat ASI perah.

Berikan perahan ASI melalui sendok bukan dot. Kenapa? Bila menggunakan dot dikhawatirkan si kecil akan mengalami bingung puting (bayi bingung antara mengisap puting dengan dot botol). Efek selanjutnya bayi bisa menolak puting ibu (menyusu ASI) jika ia tahu menyusu dari dot botol lebih mudah ketimbang jika harus mengisap payudara ibu.

Proses pemberian ASI perah melalui sendok ini memang tidak mudah. Di hari-hari pertama bisa jadi bayi akan menolaknya. Ia bahkan bisa cemas dan gelisah dengan gejala rewel, tidak mau/tidak bernafsu minum susu. Tapi jangan patah semangat dan terlalu khawatir karena kondisi ini akan berlalu setelah 3-4 hari. Disarankan pemberian ASI perah ini sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum cuti melahirkan ibu habis sehingga dapat melancarkan proses adaptasi bayi. Misalnya dengan membiasakan bayi menerima ASI perah di siang hari sementara malam harinya menetek langsung dari payudara ibu.

2. Perkenalkan dengan dunia luar.

Perkenalkan bayi dengan dunia luar selain kamarnya sehingga ia mengetahui adanya lingkungan selain rumah dan dapat mengenal banyak orang, bukan hanya dirinya, ibunya atau ayahnya.

3. Belajar ditinggal ibu.

Hal ini perlu dilatih minimal satu minggu sebelum hari H. Saat itu ibu harus bisa meyakinkan si kecil, bahwa ibu akan kembali dan akan bersamanya seusai bepergian.

Kondisi ini juga memungkinkan bayi untuk lebih dekat dan berlama-lama dengan orang yang mengasuhnya selama ibu bekerja kelak.

4. Biasakan salam “perpisahan” sebelum berangkat kerja secara wajar.

Cukup ucapkan salam sambil menciumnya. Kalau si kecil menangis, jangan ikut larut dengannya (dengan menunggunya tenang baru pergi, misalnya). Perbuatan seperti itu justru tidak mendidik dan si kecil akan lebih sulit untuk ditinggal bekerja.

PERSIAPAN IBU

Mempersiapkan diri sendiri menjadi penting karena emosi ibu sangat berpengaruh pada bayi. Jika di kantor ibu resah, gelisah dan tidak nyaman berpisah dengan si kecil, kemungkinan besar ia akan merasakan hal yang sama di rumah sehingga menjadi rewel. Maka dari itu, ibu yang sudah harus masuk kerja kembali perlu melakukan beberapa persiapan, yaitu:

1. Persiapkan mental untuk meninggalkan bayi. Pupuklah rasa percaya bahwa sang buah hati akan baik-baik saja di rumah.

2. Mulailah belajar memerah dua minggu sebelum cuti berakhir. Ketika bayi tidur dan payudara terasa membengkak, segera perahlah payudara lalu simpan ASI perah di kulkas. Esok siangnya berikan pada bayi.

3. Bekerja sama dengan pengasuh. Tekankan pada pengasuh soal pemberian ASI eksklusif (ini berarti bayi tidak boleh mendapatkan susu formula/makanan apa pun selain ASI selama ibu bekerja). Jika yang mengasuh si kecil adalah orangtua sendiri atau mertua yang pengetahuan akan ASI eksklusif masih terbatas, jelaskanlah secara baik-baik. “Bu, bayi 3 bulan harus masih ASI eksklusif karena ia belum siap mencerna makanan selain ASI,” misalnya. Intinya kerja sama yang baik dengan pengasuh amat menentukan keberhasilan ibu untuk menyusui secara eksklusif.

4. Jika menggunakan jasa babysitter pilihlah yang kompeten dan profesional. Akan lebih baik, jika sudah memanfaatkan jasa babysitter tersebut sejak kelahiran si kecil agar dapat memerhatikan cara kerja dan sikapnya. Berikan “perluasan” tugas dan kewajiban kepada pengasuh bayi setidaknya seminggu sebelum ibu kembali bekerja. Dengan demikian bayi dapat belajar membiasakan diri dengan sentuhan dan suara orang lain selain ibunya.

5. Tetap memberikan ASI meski dengan cara dan waktu yang berbeda. Memberikan ASI sangat membantu ibu untuk tetap membentuk ikatan batin dengan bayi. Saat kembali bekerja ibu masih dapat memberikan ASI secara langsung di waktu-waktu tertentu, semisal sebelum pergi ke kantor atau malam hari sepulang dari kantor. Di sela jam kerja, ibu masih dapat merasakan kedekatan dengan si kecil saat memerah ASI.

BISA TETAP EKSKLUSIF

Sejumlah ibu yang baru memiliki bayi mengaku terpaksa memberikan susu formula lantaran harus kembali bekerja. Penyebabnya beragam, ada yang karena produksi ASI menurun lantaran ibu lelah oleh tekanan pekerjaan. Bayi jadi tidak mau disusui, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya bekerja bukan alasan untuk berhenti menyusui. Pada awalnya si kecil mungkin akan gelisah karena mendapat ASI perah sehingga ia menyusu dengan jumlah yang lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi kok. Umumnya pada hari keempat, bayi sudah terbiasa. Seberapa pun ASI perah yang ada, akan diminum. Kalau ditinggali 500 cc akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan 200cc. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tak akan kekurangan ASI.

Menyangkut pemberian ASI eksklusif ini, sejumlah negara sudah memberikan dukungan sepenuhnya. Di Inggris, umpamanya, ibu hamil dan melahirkan mendapatkan cuti selama 40 minggu. Sementara di Denmark, ibu mendapat cuti 8 minggu sebelum melahirkan dan 14 minggu sesudah melahirkan ditambah 10 minggu cuti untuk merawat bayi.

Gazali Solahuddin.
sumber:
Tabloid Nakita

Setiap Tahun 30 Ribu Anak Dapat Diselamatkan Dengan Pemberian ASI

March 11, 2006

JAKARTA–MIOL : Kematian sekitar 30 ribu anak Indonesia setiap tahunnya dapat dicegah melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif selama enam bulan sejak kelahiran bayi, demikian menurut siaran pers dari UNICEF, Rabu.

Pemberian ASI secara eksklusif dapat menekan angka kematian bayi hingga 13 persen sehingga dengan dasar asumsi jumlah penduduk 219 juta, angka kelahiran total 22/1000 kelahiran hidup, angka kematian balita 46/1000 kelahiran hidup maka jumlah bayi yang akan terselamatkan sebanyak 30 ribu.

Namun yang patut disayangkan tingkat pemberian ASI secara eksklusif di tanah air hingga saat ini masih sangat rendah yakni antara 39 persen hingga 40 persen dari jumlah ibu yang melahirkan.

Promosi pemberian ASI masih terkendala oleh rendahnya pengetahuan ibu tentang manfaat ASI dan cara menyusui yang benar, kurangnya pelayanan konseling laktasi dari petugas kesehatan, masa cuti yang terlalu singkat bagi ibu yang bekerja, persepsi sosial budaya dan keagresifan produsen susu formula memromosikan produknya kepada masyarakat dan petugas kesehatan.

Padahal ASI merupakan makanan sempurna yang dapat melindungi bayi dari berbagai jenis penyakit termasuk Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), diare, gangguan pencernaan kronis, kegemukan, alergi, diabetes dan tekanan darah tinggi.

Menurut ahli gizi anak UNICEF Felicity Savage King ASI juga mengandung asam lemak essensial, asam amino taurine dan elemen nutrisi mikro lain yang sangat penting untuk perkembangan otak.

Ia juga mengatakan bahwa pemberian ASI eksklusif akan berdampak pada sistem endokrin yakni pelepasan hormon prolaktin dan oxytosin yang akan mempengaruhi sikap dan pola asuh ibu.

“Sikap dan pola asuh ibu pada bayinya akan mempengaruhi perkembangan emosional dan otak anak,” tambahnya seraya menambahkan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan ASI cenderung lebih beresiko terkena depresi dan masalah emosional lainnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif juga berdampak baik terhadap kesehatan ibu karena dapat menurunkan resiko terkena kanker payudara dan kanker rahim.

Oleh karena itu ia menyarankan agar semua pihak terlibat dalam kampanye pemberian ASI secara eksklusif.

Pemerintah, kata dia, harus membuat kebijakan nasional yang kuat dan menunjuk individu dengan kemampuan memadai untuk mengoordinir penerapan kebijakan tersebut.

Ia juga menyarankan agar pemerintah mengalokasikan sumber daya yang cukup baik sumber daya manusia, pendanaan maupun pengorganisasian dalam pemberian ASI dan makanan pendamping bagi balita.

Pemerintah, kata dia, juga harus memotivasi petugas kesehatan, pengelola fasilitas kesehatan, dan lembaga profesi agar tidak hanya mengedepankan kebutuhan komersial.

Ia menyarankan agar pemerintah menguatkan penegakan aturan tentang pemasaran susu formula dan pengganti ASI serta menambah jumlah sarana kesehatan yang sayang bayi dan ibu. (Ant/OL-1)

sumber: Media Indonesia Online, 9 Maret 2006